4
(2)

LIVING CONTEXT

Human Living Context atau yang kami singkat sebagai Living Context adalah pendekatan Contextual Design yang menitikberatkan pada pemahaman konteks kehidupan penggunanya yaitu konteks manusia dan lingkungan hidupnya. Kami memilih menggunakan Living Context karena kami mengutamakan solusi atas pemenuhan kebutuhan pengguna yang sesuai dengan konteks lingkungan kehidupannya.


Konteks Manusia

Dalam memahami konteks manusia agar dapat memenuhi berbagai kebutuhan yang diharapkan penggunanya. Maka, desain yang kami rancang memperhatikan 3 faktor :

  1. Faktor pertama Identity seperti Hobby, Profesi, atau Inspirasi yang ingin diekspresikan kedalam bangunan.
  2. Faktor kedua Psychology yang berkaitan dengan selera seperti suka atau tidak suka, nyaman atau tidak nyaman. Ketiga faktor Behavior yang berkaitan dengan aktivitas, kebiasaan atau prilaku penggunanya.

Konteks Lingkungan

Dalam memahami konteks lingkungan agar terciptanya harmoni kehidupan antara manusia dan lingkungannya. Maka, desain yang kami rancang memperhatikan 3 faktor :

  1. Faktor pertama adalah Kondisi lahan. Dengan memahami kondisi lahan, dapat diperoleh data yang bisa menjadi pertimbangan bersama apakah kondisi lahan dapat Dipertahankan, Disesuaikan, atau Dirubah.
  2. Faktor kedua adalah Peraturan. Agar desain yang klien kami peroleh dapat diterapkan secara legal tanpa khawatir melanggar aturan yang berlaku, Suba-arch juga memperhatikan aturan yang berlaku untuk membantu klien dalam Mengimplementasikannya kedalam bangunan.
  3. Faktor ketiga adalah Sustainability. Suba-arch mendukung penerapan Penghawaan & Pencahayaan Alami, dan memilih Material berkualitas yang tahan lama, sehingga klien bisa hemat dan nyaman dalam jangka panjang.

Original Design Approach, Written and Authorship by MR-Suba

How useful was this post?

Click on a star to rate it!